TSriBSA8GfrlBSClGpMiGpYoGi==

Wisata Tipis-Tipis di Curug Kiarapedes: Kedatangan Tamu Asal Australia Bikin Botram Liwet Naik Level Internasional

                           Doc : Edi Beloy

Purwakarta,Jabar — Monitorkrimsus.com

Suasana pagi yang sejuk diselimuti kabut tipis masih menyelimuti kawasan wisata Curug Kiarapedes, Kecamatan Wanayasa, Purwakarta. Udara yang segar dan pemandangan alam yang asri menjadi latar kehadiran rombongan Kang Dedi Mulyadi yang tiba di lokasi parkiran tepat pukul 09.00 pagi. Mengemudikan mobil hitam Toyota Fortuner, Kang Dedi didampingi Bunda Mariana turun dengan santai, bersiap menikmati momen kebersamaan yang akrab disebutnya sebagai kegiatan “Wisata Tipis-Tipis”. Selasa (12/05/26). 

“Tipis-tipis aja ya, yang penting kita bisa kumpul dan bersenang-senang bersama,” ujar Kang Dedi Mulyadi membuka suasana, seraya bersiap menyiapkan tikar untuk duduk santai bersama rombongan.

Kehadiran rombongan ini pun cukup meriah. Terlihat Ibu Sundawati, wartawati senior yang dikenal ramah, meski sudah berusia lanjut namun gerak-geriknya masih sangat lincah dan penuh semangat. Ada pula Ibu Desi yang dengan sigap bertindak sebagai juru foto dadakan, serta Edi Beloy atau Dedah yang sedari tadi sibuk berebutan pengeras suara Bluetooth, bersemangat memutar lagu untuk bernyanyi karaoke ria. Suasana semakin hangat dan akrab saat hidangan nasi liwet kebul mulai disajikan, menjadi menu utama dalam tradisi botram atau makan bersama khas masyarakat Sunda.

Namun, kehangatan tersebut tiba-tiba berubah menjadi momen tak terduga dan penuh kejutan. Saat semua sedang asyik bersiap menyantap hidangan, sebuah mobil bernomor plat F berhenti tepat di dekat lokasi. Pintu terbuka, dan keluarlah seorang wanita asing yang kemudian menyapa dengan ramah, “Hello I'm Mariam from Australia!”

Seketika suasana hening sejenak, semua orang tampak tersipu dan salah tingkah. Edi dan Dedah yang tadinya paling berisik langsung bergegas merapikan penampilan dan peci agar terlihat rapi. Ibu Desi pun langsung mengarahkan kamera untuk mengabadikan momen langka tersebut. Sementara itu, naluri kewartawanan Ibu Sundawati langsung muncul, ia menyambut hangat seraya bertanya, “Welcome to Wanayasa, Ny Mariam. How do you place?”

Dengan tawa renyah, Mariam menjelaskan alasannya datang ke Purwakarta. “I saw Kang Edi on TikTok. He said Indonesia is beautiful, so I come,” ungkapnya, membuat semua yang hadir tersenyum gembira. Tanpa disangka, kegiatan botram sederhana di pinggir curug itu pun mendadak berubah menjadi jamuan makan bertaraf internasional.

Kang Dedi Mulyadi dengan gaya khasnya yang ramah langsung menyendokkan nasi liwet ke piring tamu kehormatan tersebut. “This is liwet, Ny Mariam. Nasi, ikan asin, lalap, sambal. Eat with hand, more tasty,” ujarnya menjelaskan cara menikmati hidangan khas itu.

Mariam pun menurut dan mencoba menyantapnya dengan antusias. Namun, sesaat setelah mencocolkan makanan ke sambal dan memakannya, wajahnya seketika memerah, matanya terbelalak kaget. “Oh my God... spicy! BUT I like it,” serunya diiringi gelak tawa seluruh rombongan. Bunda Mariana pun sigap menyodorkan potongan timun segar untuk menetralkan rasa pedas yang membakar lidah.

Momen paling heboh dan tak terlupakan terjadi saat Mariam diajak mendekat dan mencoba berendam di aliran air curug. Ia sempat mengira suhu air di sini sama hangat dengan di negaranya. Namun, begitu kakinya menyentuh air dan masuk ke dalam kolam, ia langsung berteriak kaget sambil berlari naik ke tepian. “Cold! Very cold!” serunya sambil tertawa-tawa. Di tepian, Edi dan Dedah sudah bersiap lengkap dengan handuk, menyambutnya dengan gaya seolah sedang berada di hotel berbintang lima, yang kembali mengundang tawa bahagia semua orang.

Sebelum meninggalkan lokasi siang harinya, Mariam tidak menahan rasa haru. Ia memeluk satu per satu orang yang ditemuinya dengan tulus. “In Australia we have beach. But here you have warmth. Not weather, but people,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Kalimat sederhana namun sangat mendalam itu membuat suasana seketika hening. Kang Dedi Mulyadi hanya tersenyum lebar, lalu menyimpulkan dengan bijak, “Tuh kan, yang mahal bukan tempatnya. Tapi kebersamaannya, kehangatan hati antar sesama manusia.”

Mobil Mariam perlahan menghilang di tikungan jalan, meninggalkan jejak cerita indah yang tak terlupakan. Di lokasi wisata, tersisa kenangan manis, gelak tawa, koleksi foto-foto kebersamaan, serta piring kosong dan sambal yang sudah ludes disantap. Bagi Mariam, kunjungan ini bukan sekadar jalan-jalan, melainkan awal dari sebuah cerita persahabatan. Sebuah janji yang terucap: ia sangat rindu dan berharap bisa segera kembali lagi ke Indonesia.

publisher : ETP

Komentar0

Type above and press Enter to search.