Oleh : Rosadi Jamani Ketua Satupena Kalbar
Jasadnya telah dikubur. Ibunya masih sulit dihibur. Air matanya terus mengucur. Kasih sayang ibu yang tak bisa diukur. Inilah lanjutan tragedi paling tragis di negeri ini. Siapkan lagi kopi tanpa gulanya, wak!
Di sebuah kontrakan sempit 3x11 meter di Jakarta, seorang ibu bernama Erlina menjerit. Jeritannya bukan sekadar tangis, tapi doa yang pecah, amarah yang patah, dan cinta seorang ibu yang hancur berkeping. Ia berulang kali mengulang kalimat yang menusuk dada siapa pun yang mendengar, “Anak saya sudah tidak ada!” Suaranya menggema, bukan hanya di ruang sempit rumah duka itu, tapi juga di hati rakyat yang masih punya nurani.
Anak itu bernama Affan Kurniawan, 21 tahun, tulang punggung keluarga. Ia bukan pejabat, bukan jenderal, bukan orang kaya. Ia hanya tukang ojek online yang tiap hari menantang panas dan hujan demi membawa pulang uang untuk makan tujuh orang anggota keluarga. Tapi, ia pergi dengan cara paling tragis, dilindas kendaraan taktis Brimob. Bukan kecelakaan biasa, bukan takdir yang jatuh dari langit, tapi ulah mesin negara yang seharusnya melindungi rakyat.
Bayangkan betapa sakitnya hati seorang ibu melihat anak yang ia lahirkan dengan perih, ia besarkan dengan doa, justru pulang dalam keadaan terbujur kaku, dikawal ribuan ojol dengan jaket hijau. Di depan rumah duka, udara terasa sesak, bukan karena polusi Jakarta, tapi karena tangis yang tak pernah berhenti. Tetangga mencoba menenangkan, tapi siapa bisa menenangkan seorang ibu yang baru saja kehilangan dunia dalam sekejap?
Saat para petinggi datang melayat, Erlina masih menangis. Tangisnya bukan sekadar untuk Affan, tapi juga untuk sebuah bangsa yang tega membiarkan anak-anaknya mati di bawah roda kekuasaan. Tangis itu menjadi simbol, lebih jujur dari pidato presiden, lebih keras dari sirine polisi, lebih tajam dari berita-berita yang dibungkus eufemisme. Tangis ibu adalah bahasa paling murni, dan ketika negara membuat seorang ibu menjerit seperti itu, maka sebenarnya negara sudah gagal.
Kapolri memang datang, memeluk keluarga, meminta maaf. Tapi apa artinya pelukan itu bagi seorang ibu yang kini hanya bisa memeluk bantal kosong di malam hari? Apa artinya kata “usut tuntas” ketika anaknya sudah dikubur di tanah Karet Bivak? Erlina tidak butuh pidato. Ia butuh anaknya hidup kembali, sesuatu yang tidak bisa diberikan negara mana pun di dunia ini.
Lihatlah wajahnya yang sembab, matanya yang bengkak, tubuhnya yang lelah. Seorang ibu kehilangan tulang punggung keluarga, kehilangan anak yang seharusnya menemaninya di hari tua. Kini ia hanya ditemani sepi, ditemani bayangan Affan yang tak lagi pulang. Kita, para pembaca, jangan pura-pura kuat. Bayangkan saja kalau itu anakmu, adikmu, kakakmu. Apakah ente masih sanggup menyebut ini sekadar “insiden”?
Ribuan ojol mengantar Affan ke liang lahat, tapi yang paling berat berjalan adalah ibunya. Setiap langkah menuju makam adalah torehan baru di jantungnya. Setiap sekop tanah yang menutup jenazah Affan adalah tusukan pisau ke hati seorang ibu. Di atas pusara itu, Erlina menangis lagi. Tangis yang tak akan pernah selesai.
Inilah tragedi paling nyata. Bukan hanya hilangnya nyawa Affan, tapi hancurnya hati seorang ibu. Maka jangan salahkan rakyat bila mereka turun ke jalan, bila mereka marah, bila mereka menyalakan api demo. Karena di balik setiap teriakan demo, ada jeritan seorang ibu yang kehilangan anaknya. Ketika aparat melindas seorang anak, sejatinya mereka juga melindas hati semua ibu di negeri ini. Affan sudah tiada, tapi tangis Erlina akan terus hidup sebagai alasan rakyat untuk melawan.
Foto Ai, hanya ilustrasi saja.
Publisher : Krista#camanewak
Komentar0