Oleh : Rosadi Jamani Ketua Satupena Kalbar
PONTIANAK // Monitorkrimsus.com
Sebuah kejadian tragis dan sangat memilukan. Rasa kemanusian seperti sudah hilang di negeri ini. Abang ojek online (ojol) dengan baju dinas hijaunya, tergilas. Nyawanya pun lepas. Sebelum seruput kopi tanpa gula, kita ucapkan belasungkawa, wak. “Innalillahiwainnailaihirojiun”
Detik itu tiba seperti adegan neraka yang diproyeksikan ke tengah jalan Pejompongan. Malam 28 Agustus 2025, udara penuh gas, jerit, dan debu aspal. Di tengah kerumunan yang kacau, seorang pria sederhana dengan jaket hijau, seragam harapan jutaan pekerja ojol, berdiri di atas motornya, matanya cemas tapi masih menatap ke depan. Namanya MUA, tiga huruf yang tak pernah masuk berita sebelum malam ini. Dia hanya ingin pulang, mungkin mengantar order terakhir, mungkin sekadar melewati jalur itu. Tapi takdir jahat menunggu di ujung jalan.
Suara mesin berat datang, dengung baja yang menggetarkan tanah, seperti gemuruh raksasa lapar. Rantis Brimob muncul, lampunya menyalak, bodinya seperti monster dengan perut penuh dendam. Massa berhamburan, sebagian masih mencoba melawan, tapi MUA tak sempat. Tangannya gemetar, motornya tertahan di lautan manusia. Dalam sepersekian detik, bayangan hitam rantis itu menutup langit di atasnya. Inilah detik paling getir, rakyat jelata yang tak bersenjata, berhadapan langsung dengan kendaraan perang milik negara.
Benturan pertama terdengar bagai gong kematian. Moncong besi menghantam sisi motor, tubuh MUA terhempas ke aspal. Suara teriak pecah, orang-orang menjerit. Namun, roda raksasa tak berhenti. Ia terus melaju, menindih. Satu, dua, tiga putaran, hingga daging dan tulang tak lagi bisa dibedakan dari debu jalan. Bayangkan detik itu, tubuh manusia yang masih hidup, digiling di bawah roda negara yang katanya “melindungi.” Tak ada jeda, tak ada belas kasih, hanya bunyi logam menindas tulang, bunyi nyawa yang patah.
Massa panik, berlari mendekat, memukul bodi baja dengan tangan kosong. Suara tangisan bercampur amarah, “Berhenti! Itu orang! Itu manusia!” Tapi rantis tetap melaju, seakan pengemudinya tuli, atau barangkali sengaja. Bayangan kematian menari di lampu strobo, jalanan berubah jadi altar pengorbanan. Di tengah riuh, MUA terkapar tak lagi bergerak. Matanya menatap kosong ke langit Jakarta yang muram. Detik terakhirnya begitu kejam. Tak ada keluarga, tak ada doa, hanya aspal hitam dan roda baja.
Tubuhnya kemudian diangkat dengan tergesa, dikerubungi wajah-wajah pucat. Jaket hijau yang dulu simbol kerja keras kini berubah jadi kain kafan darurat, berlumur darah dan debu. MUA, yang barangkali masih sempat bermimpi tentang rumah kecil di Sukabumi, kini terbujur kaku di mobil evakuasi menuju RS Pelni. Di situ, dokter hanya bisa memastikan apa yang semua orang sudah tahu, dia telah tiada, dilindas oleh negara yang seharusnya menjaganya.
Dunia maya meledak. Netizen marah, memaki aparat, mengutuk pemerintah. Komunitas ojol menundukkan kepala, membacakan doa, menyebutnya pahlawan tanpa tanda jasa. Tapi Polri? Pemerintah? Sunyi. Yang muncul hanya suara Kompolnas dengan kalimat template, “akan diselidiki.” Seakan tragedi sebesar ini hanyalah salah satu baris laporan yang bisa hilang di rak arsip. Seakan tubuh MUA hanyalah statistik, bukan manusia dengan keluarga, bukan pekerja yang tiap hari menembus panas dan hujan demi sesuap nasi.
Detik-detik MUA dilindas rantis bukan sekadar kecelakaan, itu adalah pengkhianatan. Negara, dalam wujud paling kasarnya, telah menggilas darah dagingnya sendiri. Kita diminta diam, menerima, melupakan. Tapi bagaimana mungkin melupakan? Bayangan itu terlalu jelas, jeritan massa terlalu nyaring, darah di aspal terlalu nyata.
Maka marahlah. Jangan biarkan kematian MUA dikecilkan jadi catatan birokrasi. Ingatlah detik-detik itu, karena di sanalah wajah asli negara tersingkap, monster baja yang melindas tukang ojol. Jika hari ini kita diam, besok bisa giliran kita.
“Mari kita berdoa agar arwah MUA bisa tenang dan damai di alam sana!”
Foto Ai, hanya ilustrasi bukan kejadian sebenarnya.
Publisher : Krista#camanewak
Komentar0