TSriBSA8GfrlBSClGpMiGpYoGi==

Update Kasus Arya Daru, Hp Aktif, Dapat Kiriman Simbol Aneh

Oleh : Rosadi Jamani Ketua Satupena Kalbar

PONTIANAK // Monitirkrimsus.com

Kasus Arya Daru Pangayunan kini resmi naik level dari drama kriminal jadi telenovela surealis. Hal ini bikin Sherlock Holmes, Hercule Poirot, dan Conan Edogawa sepakat buka warung pecel lele bareng. Bayangkan, pria yang jelas-jelas sudah meninggal sejak 8 Juli 2025, dikebumikan dengan doa khusyuk, tiba-tiba bangkit lagi. Bukan di dunia nyata, melainkan di dunia maya. Instagramnya nongol dengan status “aktif tujuh menit lalu.” WhatsApp-nya pun sempat centang dua. Pertanyaannya, siapa yang pegang HP? Arwah Arya? Hantu siber? Atau polisi yang salah colok kabel charger?

Polisi sebelumnya bersumpah, ponsel Arya terakhir terlacak mati di Mal Grand Indonesia. Mereka bilang, sudah dicek, sudah disisir, hasil nihil. Tapi forensik digital internasional jelas-jelas bilang, mustahil akun aktif tanpa perangkat asli terhubung ke internet. Di FBI atau Scotland Yard, pelaku bisa dilacak dalam hitungan detik, radius dua meter, sampai ketahuan bahkan sedang jajan cilok atau tidak. Sementara di negeri kita, yang muncul malah berita. Akun tiba-tiba hilang lagi, WhatsApp mati, Instagram sunyi, dan polisi bilang “kami masih menyelidiki.” Kalau begini caranya, mungkin lebih baik sewa dukun online, minimal bisa kasih update lewat tarot.

Lalu datang babak absurd kedua. Amplop cokelat misterius. Sehari setelah pemakaman, saat keluarga masih berurai air mata, muncul pria tak dikenal di pengajian Yogyakarta. Dia kasih amplop ke asisten rumah tangga, lalu kabur secepat aktor figuran yang tahu script-nya habis. Isinya? Tiga simbol dari gabus putih: bintang, hati, dan bunga kamboja. Seolah-olah puzzle murahan yang dibeli di toko kelontong, tapi efeknya bikin keluarga gemetar.

Dalam semiotika kriminal, simbol ini bisa berarti apa saja. Bintang bisa kode rahasia diplomat, atau sekadar sisa hiasan pohon natal. Hati mungkin tanda cinta, kehilangan, atau sekadar potongan dekorasi Valentine gagal laku. Kamboja? Itu jelas, lambang kuburan, tapi bisa juga pesan sinis, “Hei, ini belum selesai, bro.” Simbol ini lalu diserahkan ke polisi. Entah diinvestigasi sungguhan atau hanya jadi pajangan di lemari barang bukti, tidak ada yang tahu. Mengingat rekam jejak, bisa saja nanti ketemu lagi pas lelang barang sitaan.

Keluarga menolak mentah-mentah narasi bunuh diri. Kuasa hukum Nicholay Aprilindo mendesak agar tafsir simbol dilakukan dengan serius, bukan sekadar “oh, itu cuma bunga hias.” Bahkan sang ayah, Subaryono, sampai minta Presiden Prabowo Subianto turun tangan langsung. Bayangkan, sebuah kasus HP gentayangan dan amplop bergabus harus naik eskalasi ke RI-1. Ini level yang bahkan Kafka mungkin tidak sanggup tulis.

Kalau memakai ilmu forensik paling mutakhir, seharusnya jejak digital, pola akses akun, sampai sidik jari pada amplop bisa dianalisis tuntas. Tetapi yang terjadi? Publik hanya mendengar jawaban klise, “masih dalam penyelidikan.” Persis drama sinetron episode 300, konflik masih sama, penonton hanya dipaksa setia.

Ironinya, pola ini mirip dengan kasus Ilham, kepala cabang BRI. Penculiknya sudah tertangkap, tapi pembunuhnya entah ke mana. Seperti menonton drama kriminal yang naskahnya ditulis oleh komedian, pelaku ada, eksekutor kabur, polisi jadi cameo.

Andai Sherlock Holmes lahir di Indonesia, ia pasti pensiun dini. Mungkin buka kedai kopi di Yogyakarta, menamai usahanya “221B Kopi Tubruk,” sambil menulis memoar getir berjudul, Petunjuk Ada di Mana-mana, Tapi Polisi Asyik Main Puzzle Gabus.

Publisher : Krista#camanewak

Komentar0

Type above and press Enter to search.