Oleh :Rosadi Jamani Ketua Satupena Kalbar
PONTiANAK // Monitorkrimsus.com
Baru kali ini saya mendengar dari mulut Nadiem Makarim, menyebut nama Tohan, eh salah, Tuhan. Cukup religius juga lulusan Amerika Serikat, tempat Donald Trump ngasah jurus tarif dagangnya. Ia mengucapkan nama Tuhan saat kedua tanggannya diborgol dan memakai jaket pink. Mari kita lindas, eh salah, kupas sosok Nadiem mendadak religius. Tentu sambil seruput kopi tanpa gula, wak!
Adegan paling surealis tahun ini resmi tayang perdana di Gedung Kejaksaan Agung. Nadiem Makarim, mantan Mendikbudristek sekaligus mantan dewa startup, tampil dengan borgol berkilau dan rompi tahanan pink. Ini persis cosplay borjuis di pesta ulang tahun, sambil melantangkan nama Tuhan seolah-olah malaikat sedang bikin press release.
“Saya tidak melakukan apa pun! Tuhan akan melindungi saya!” teriaknya, dengan nada yang lebih mirip khotbah startup ketimbang tersangka korupsi. Di detik itu juga, umat manusia bingung, apakah Kejagung sedang sidang tipikor atau sedang syuting sinetron “Azab Chromebook Tersangka Tersayang”?
Direk bayangkan, wak! Rp 1,98 triliun uang rakyat raib. Laptop Chromebook yang seharusnya jadi kitab suci digital pendidikan berubah jadi fosil elektronik. Tapi, Nadiem meyakinkan dunia bahwa Tuhan ikut terlibat. Seolah-olah Yang Maha Kuasa punya divisi IT sendiri, duduk di atas awan sambil ngecek log aktivitas Google Classroom, memastikan “integritas” bos Gojek ini tetap premium edition.
Lucunya, kalimat sakti “Allah akan melindungi saya” justru terdengar lebih mirip cheat code. Kalau di video game, itu semacam tombol rahasia buat jadi kebal hukum. Kalau benar manjur, penjara akan kosong dan hanya dihuni para tahanan yang lupa menyebut nama Tuhan. Kita semua yang rakyat jelata cukup baca doa setiap malam agar jaksa tidak nyasar datang ke kontrakan.
Integritas, kata Nadiem, adalah nomor satu. Kejujuran, katanya, nomor satu. Hebat sekali! Dua hal nomor satu sekaligus. Rupanya dalam dunia startup, angka bisa dipelintir sesuka hati. Kalau Tuhan bisa dipanggil untuk rapat darurat, kenapa tidak integritas dan kejujuran disamakan rankingnya? Logika ini begitu ajaib, Einstein pun pasti pengen resign jadi ilmuwan.
Sementara itu, rakyat hanya bisa geleng kepala. Bagaimana mungkin Tuhan di Arasy, tiba-tiba diseret untuk ikut jadi saksi meringankan kasus Chromebook? Apakah surga sekarang sudah ada aplikasi e-court? Apakah malaikat pencatat amal juga merangkap sebagai auditor BPK?
Nadiem mungkin berharap borgol di tangannya berubah jadi tasbih kosmik. Lalu, setiap butiran doa bisa menggugurkan pasal 2 ayat 1 UU Tipikor. Sayangnya, Kejagung tidak bisa di-hack. Pasal hukum tidak bisa di-reset password. Tahanan tidak bisa login pakai akun Gmail.
Di titik paling absurd, drama ini jadi teater filsafat. Kalau setiap koruptor bisa bawa-bawa nama Tuhan, maka surga akan dipenuhi orang berseragam rompi pink. Sementara rakyat miskin yang rajin bayar pajak hanya kebagian tempat di emperan neraka, jadi panitia konsumsi bagi para nabi palsu kejujuran.
Jangan pernah merasa bisa mengibuli semesta dengan menyebut nama Tuhan di tengah borgol yang berkilau. Tuhan tidak bekerja sebagai pengacara pribadi, apalagi sebagai customer service yang siap melindungi reputasi politik atau startup jenengan. Integritas bukan sekadar kata manis yang diulang-ulang sambil berpose di depan kamera, tapi sesuatu yang diuji ketika tangan nuan benar-benar dingin memegang besi tahanan.
Jika benar Tuhan melindungi, maka perlindungan itu bukan untuk menyelamatkan uang korupsi, melainkan untuk menyelamatkan hati rakyat dari kebohongan yang terus-menerus. Berhentilah menyeret nama Tuhan ke dalam sidang manusia, karena pada akhirnya, Tuhan tidak pernah jadi saksi meringankan. Dialah hakim terakhir yang bahkan rompi pink pun tak bisa menutupi.
Foto Ai, hanya ilustrasi saja.
Publisher : Krista#camanewak

Komentar0