Oleh : Rosadi Jamanj Ketua Satu Pena Kalbar
Pontianak — Monitorkrimsus.com
Iran sedang di ujung tanduk. Rakyatnya masih semakin bernafsu ingin me-nepal-kan pemimpinnya (kontra). Pemerintah Iran terus menuduh Amerika dan Israel. Aksi ribuan demo pro pemerintah pun ikut memanaskan situasi. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak.
Teheran hari ini bukan lagi kota seribu kubah, melainkan kota seribu luka. Azadi Tower, monumen kebanggaan yang dulu berdiri sebagai gerbang kemerdekaan, kini terasa seperti saksi bisu yang bisu sungguhan. Ia melihat ratusan ribu manusia mengalir di bawahnya, tapi tak bisa berteriak ketika darah menetes di aspal.
Hingga Minggu siang, 11 Januari 2026, demonstrasi besar di Iran masih bergolak dengan eskalasi tinggi. Korban jiwa terus disebut dengan nada ragu. Ada laporan 48 demonstran dan 14 aparat tewas, ada pula yang menghitung hingga 116 nyawa melayang. Angka-angka itu seperti mozaik pecah di Museum Nasional Iran. Tak utuh, tapi cukup untuk menunjukkan betapa mahal harga sebuah protes.
Pemerintah memutus internet nasional sejak Jumat, 9 Januari. Ini seolah jaringan serat optik adalah nadi pemberontakan. Namun Teheran punya jalanan yang lebih tua dari sensor negara. Rekaman warga tetap bocor, menampilkan ratusan ribu massa memenuhi Teheran dan kota-kota besar lain, dari pemuda berjaket lusuh sampai lansia yang langkahnya tertatih. Valiasr Street, urat nadi terpanjang di Timur Tengah, berubah menjadi sungai manusia dan amarah. Di sepanjang jalan itu, api menjilat 25 masjid, 26 bank dijarah, satu rumah sakit dan dua pusat medis rusak. Ironi menampar keras. Kota yang dibangun dengan doa justru menyaksikan rumah ibadah terbakar. Kota yang mengklaim keadilan ekonomi melihat bank-banknya dilucuti. Kota yang mengagungkan martabat hidup membiarkan fasilitas kesehatan terluka.
Ayatollah Ali Khamenei menyebut para demonstran sebagai pembuat onar yang memenuhi keinginan Presiden Amerika Serikat. Tuduhan itu menggema seperti azan politik dari menara kekuasaan. Pemerintah Iran bahkan membawa perkara ini ke Dewan Keamanan PBB, menuding Washington sebagai provokator utama. Dalam narasi resmi, kemarahan rakyat direduksi menjadi skenario asing, seolah harga roti, pengangguran, dan represi hanyalah ilusi buatan Barat.
Namun Teheran tidak satu warna. Di saat bendera Republik Islam dirobek dan diganti bendera monarki Pahlavi berlambang singa dan matahari emas, dengan nama Reza Pahlavi dikumandangkan sebagai simbol nostalgia, arus lain bergerak berlawanan. Ribuan massa pro-pemerintah turun ke jalan di Teheran dan beberapa kota besar. Mereka membawa poster Ayatollah Khamenei, mengibarkan bendera Republik Islam Iran, dan meneriakkan slogan “Down with USA” serta “Death to Israel”. Di bawah Milad Tower, mereka menyatakan kesetiaan pada sistem Republik Islam dan menolak simbol monarki yang dianggap racun sejarah.
Media resmi menyorot aksi ini sebagai bukti, mayoritas rakyat masih bersama negara dan menolak intervensi asing. Demo pro-pemerintah ditampilkan rapi, terorganisir, dan patriotik, seolah menjadi penyeimbang moral atas lautan protes anti-rezim. Di sinilah tragedi berubah menjadi satire, dua massa sama-sama mengklaim mewakili Iran, sementara korban terus bertambah dan internet tetap gelap.
Versi pemerintah mengecilkan jumlah korban, menyoroti pembakaran masjid dan bank sebagai bukti ulah perusuh. Versi oposisi dan media internasional mencatat 48 hingga 116 orang tewas, ratusan ribu turun ke jalan, dan pemutusan internet sebagai tanda negara kehilangan dialog. Reza Pahlavi, meski namanya diteriakkan dan simbol monarki dikibarkan, tak terbukti menggerakkan aksi dari Amerika; ia lebih mirip poster harapan bagi mereka yang muak pada hari ini.
Teheran kini seperti Grand Bazaar yang dikunci separuh. Satu sisi dipenuhi teriakan anti-rezim, sisi lain slogan anti-Amerika. Di antara keduanya, darah mengering di aspal. Kota ini sedang memilih nasibnya, mendengar rakyat yang beragam, atau terus menyederhanakan luka menjadi propaganda. Azadi Tower tetap berdiri, menyaksikan kebebasan diperdebatkan, tapi belum benar-benar pulang.
“Duh, abang ngangkat demo Iran lagi. Apa tak sakit sering dituduh agen Mossad dan CIA, Bang?”
“Selama masih seruput Koptagul, santai aja, wak. Sebenarnya saya prihatin kondisi Iran. Kalau rakyat udah marah, memang sulit dibendung.”
Sumber foto: MAHSA / Middle East Images / AFP via Getty Images
Publisher : Kris#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM

Komentar0