Oleh : Rosadi Jamani Ketua Satupena Kalbar
Pontianak — Monitorkrimsus.com
Negara ini memang ajaib. Pada hari yang sama, lembaga yang sama, borgol yang sama, dua kepala daerah ditangkap. Tapi reaksi rakyatnya bertolak belakang sejauh langit dan got. Di Pati, saat Bupati Sudewo ditangkap KPK, langit malam disulut kembang api. Di Madiun, ketika Wali Kota Maidi dibawa KPK di hari yang sama, jalanan justru dipenuhi karangan bunga. Fenomena unik. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Ini bukan sekadar cerita kembang api dan bunga. Ini potret psikologi publik yang telanjang bulat.
Rakyat Pati menyalakan kembang api bukan karena mereka gemar pesta. Mereka merayakan sesuatu yang lebih mahal dari hiburan, harapan. Harapan bahwa penderitaan mereka selama ini akhirnya mendapat titik. Bahwa keluhan yang mungkin tak pernah didengar, kini dijawab oleh suara borgol yang berbunyi “klik”. Kembang api itu bukan simbol kegembiraan atas kejatuhan seseorang, tapi luapan emosi kolektif yang sudah lama dipendam. Seperti orang yang lama menahan kentut, lalu akhirnya meledak, pada mabur, bau tahu, ups.
Sebaliknya, Madiun menangis dalam diam. Karangan bunga berdiri rapi, seolah berkata, “Kami tahu beliau salah, tapi kami juga tahu beliau bekerja.” Di mata banyak warga, Maidi bukan sekadar wali kota, tapi sosok yang terasa hadir. Ada kesan ia seperti Robin Hood versi lokal. Keras pada aturan, berani pada risiko, dan, menurut persepsi rakyat, lebih sering “mengambil dari yang kuat untuk memperindah hidup yang kecil-kecil”. Entah persepsi itu sepenuhnya benar atau tidak, yang jelas, kota ini pernah merasakan hasilnya.
Di sana, Maidi menjadi simbol perubahan. Jalan-jalan dibenahi, kota ditata, pelayanan dirasakan. Maka ketika KPK datang, rasa yang muncul bukan hanya kaget, tapi juga duka. Duka karena sosok yang dianggap hadir dalam kehidupan sehari-hari tiba-tiba dicabut dari panggung. Robin Hood boleh salah melanggar hukum kerajaan, tapi rakyat tetap mengenangnya sebagai pembela.
Menariknya, dua reaksi ini sama-sama jujur. Sama-sama rakyat. Sama-sama tidak direkayasa buzzer. Tidak dibayar. Tidak dikomandoi.
Inilah yang sering gagal dipahami para pejabat. Penilaian rakyat bukan soal pidana semata, tapi soal pengalaman. Rakyat menilai dengan perut, bukan pasal. Dengan jalan berlubang, bukan konferensi pers. Dengan antrean pelayanan, bukan baliho prestasi. Ketika pemimpin hanya hadir saat kampanye, lalu menghilang dalam kekuasaan, jangan kaget jika rakyat menyalakan kembang api saat ia jatuh. Tapi ketika pemimpin hadir dalam denyut keseharian, meski akhirnya tergelincir, rakyat akan tetap mengantar dengan bunga.
KPK, dalam cerita ini, hanyalah pemantik. Reaksi rakyatlah yang menjadi cermin paling jujur tentang kualitas kepemimpinan. Bukan soal siapa lebih bersalah atau lebih bersih, itu urusan hukum. Ini soal ikatan emosional antara pemimpin dan yang dipimpin. Ikatan yang tidak bisa dibangun dengan spanduk, tapi dengan kerja yang terasa.
Fenomena Pati dan Madiun memberi pesan keras, jabatan tidak otomatis melahirkan cinta. Kekuasaan tidak identik dengan penghormatan. Ada pemimpin yang jatuh lalu dirayakan. Ada yang jatuh lalu diratapi. Itu ditentukan jauh sebelum KPK datang, ditentukan oleh cara mereka memimpin setiap hari.
Maka bagi para pejabat yang hari ini masih duduk nyaman di kursi empuk, jangan sibuk bertanya bagaimana caranya lolos dari jerat hukum. Tanyakan satu hal yang lebih menohok, kalau suatu hari saya ditangkap, rakyat menyiapkan apa—kembang api atau karangan bunga?
Pada akhirnya, kembang api dan karangan bunga adalah rapor yang paling jujur. Tidak bisa dimanipulasi. Tidak bisa dibantah dengan konferensi pers. Jika saat Anda ditangkap rakyat menyalakan kembang api, itu pertanda kepemimpinan Anda meninggalkan luka. Rakyat merasa lebih lega ketika Anda pergi daripada saat Anda berkuasa. Itu sinyal, selama ini Anda hadir sebagai beban, bukan harapan.
Sebaliknya, jika yang datang adalah bunga, itu tanda lain. Bukan tanda Anda suci, bukan pula pengampunan hukum. Itu tanda Anda pernah memperhatikan rakyat. Pernah mendengar keluhan tanpa mikrofon. Pernah bekerja tanpa harus dipuji. Bunga adalah bahasa sunyi rakyat yang berkata, “Kami tahu Anda salah, tapi kami juga tahu Anda peduli.”
Maka jangan remehkan reaksi publik. Di sanalah cermin kepemimpinan sesungguhnya. Hukum akan mencatat perkara, sejarah akan mencatat kebijakan, tapi rakyat akan mencatat rasa. Rasa itulah yang menentukan, saat Anda jatuh, apakah langit menyala oleh kembang api, atau jalanan hening oleh bunga.
Foto Ai hanya ilustrasi
Publisher : Kris#camanewak

Komentar0