Oleh : Rosadi Jamani Ketua Satupena Kalbar
Pontrianak — Monitorkrimsus.com
“Bang, kenapa tak bahas Seabling lawan netizen korea?” Awalnya saya tidak ngeh. Makin ke sini kok semakin ramai. Ternyata benar, ada peperangan dahsyat netizen kita plus Malaysia, Thailand, Vietnam, Singapura melawan Knetz. Simak peperangannya sambil berimajinasi seruput Koptagul, wak!
Semua bermula dari konser ulang tahun ke-10 DAY6 di Kuala Lumpur, 31 Januari 2026. Beberapa fansite Korea datang membawa kamera profesional dan lensa telephoto sepanjang dosa mantan. Padahal, aturan venue sudah jelas, tanpa kamera profesional. Malaysian fans yang pandangannya ketutup langsung protes sopan dan unggah bukti.
Balasan Knetz? “Mind your own business.” Kalimat pendek, efeknya panjang seperti cicilan KPR.
Dari situ bara menyala. Dalam hitungan hari, sebagian Knetz naik level menjadi mesin rasisme otomatis. Warna kulit Asia Tenggara dihina “dark ugly”. Wajah orang Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam dibandingkan binatang. AI-generated gorilla pegang bendera SEA viral lebih cepat dari promo 12.12. MV girl group Indonesia yang syuting di sawah disebut “low budget petani”. Bahkan ada yang menyuruh “balik ke jungle kalian.” Ironi berdiri tegak. Negara dengan birth rate terendah dunia dan angka bunuh diri tinggi, serta budaya operasi plastik yang massif, dengan percaya diri memberi kuliah estetika dan peradaban. Alam semesta sampai geleng-geleng.
Masalahnya, yang dihina itu bukan satu negara. Itu satu kawasan. Maka lahirlah SEAblings (South East Asia + siblings). Nama imut, tenaga nuklir. Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, Singapura kompak seperti reuni keluarga besar yang baru sadar sepupunya dihina tetangga. Netizen Indonesia? Itu komandan tanpa pangkat. Timeline berubah jadi medan tempur penuh meme, data, dan arsip politik.
Nama Yoon Suk Yeol yang dipenjara seumur hidup diungkit lagi. Lee Jae-myung pada Juni 2025 setelah kekacauan politik dijadikan bahan roasting berjilid-jilid. Ketika Knetz menyindir Prabowo Subianto sebagai mantan jenderal kontroversial, netizen Indonesia membalas dengan nada santai tapi menusuk. Lebih baik mantan jenderal dari hampir mengudeta negara sendiri. Diskusi politik internasional mendadak terasa seperti kelas hubungan internasional gratis di medsos.
Masuk babak beauty war. Klaim “Korean women most beautiful in the world” dilempar seperti trofi tak kasatmata. SEAblings menjawab pakai statistik Miss Universe. Filipina empat kali juara: 1969, 1973, 2015, 2018. Thailand pernah runner-up. Vietnam finalist. Indonesia belum juara, tetapi bukan nol. Korea? Nol. Knetz menepis dengan dalih pageant itu usang, mereka punya Oscars dan medali emas. SEAblings menyenggol balik, cukup untuk menutup nol besar itu? Timeline mendidih seperti panci tanpa tutup.
Boikot pun bergulir. Streaming K-drama dihentikan. Rating satu bintang membanjiri Netflix. Produk K-beauty ditinggalkan. Makanan Korea diparkir dulu. Produk Samsung dan Olive Young ikut terseret sentimen. Hashtag #SEAblings trending jutaan unggahan. Media seperti The Korea Herald, The Straits Times, The Jakarta Post, dan The Chosun Ilbo menyebut ini ledakan “long-buried racial tensions” yang meledak gara-gara satu kamera besar.
Tanggal 25 Februari 2026, pemerintah Korea Selatan mendadak mengumumkan paket visa baru. Multiple-entry lima tahun untuk yang pernah berkunjung, sepuluh tahun untuk warga kota besar China dan Vietnam, serta pilot visa-free untuk grup turis Indonesia minimal tiga orang. Target 30 juta turis pada 2030. Netizen Indonesia langsung menyipitkan mata. Kebetulan atau efek boikot? Hallyu yang menyumbang devisa lebih dari US$15 miliar dan disebut sektor ekspor budaya keempat terbesar, kabarnya terancam kerugian hingga 10 triliun won.
Akhirnya, gara-gara rasisme, netizen Indonesia bukan cuma tersinggung. Mereka menyatakan perang, perang meme, perang data, perang solidaritas. Senjatanya bukan tank, melainkan trending topic. Dunia kembali belajar satu hal penting, jangan pernah remehkan netizen Indonesia. Sekali kompak, satu kawasan bisa berdiri. Satu kamera bisa menggetarkan industri miliaran dolar.
Foto Ai hanya ilustrasi
Publisher : Krista#camanewak

Komentar0