Purwakarta — Monitorkrimsus.com
Anggapan limbah tidak memiliki nilai manfaat kini terbukti salah. Salah satunya adalah limbah FABA (Fly Ash dan Bottom Ash) dari industri pembakaran batu bara yang kini bertransformasi menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat kecil di Desa Cijantung, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.
Regi Prasetya, Penasehat Kelompok UKM Lancar Jaya Desa Cijantung, menjelaskan bahwa sejak 2021, limbah FABA khususnya Bottom Ash (abu batu bara) hasil dari teknologi Pulverized Coal (PC) – yang menghasilkan 80% Fly Ash dan 20% Bottom Ash – telah terbukti berkualitas baik sebagai bahan campuran konstruksi.
“FABA bisa dimanfaatkan sebagai substitusi bahan baku beton untuk paving, batako, tetrapod, dan produk beton pracetak lainnya. Selain itu, ia juga digunakan sebagai campuran pupuk kompos, bahan timbunan tanah, serta material Non Acid Forming (NAF) untuk menstabilkan keasaman tanah,” ujar Regi saat ditemui di Sekretariat Kelompok UKM Lancar Jaya, Kampung Parapatan Rt.005/Rw.002, Desa Cijantung, Sabtu (28/2).
Regi menegaskan bahwa FABA kini menjadi produk andalan untuk konstruksi bangunan. Bahkan, material ini telah memenuhi kebutuhan beton untuk proyek strategis nasional, yakni tol Jogja-Solo dan Bawen-Jogja. “Ini membuktikan FABA cocok untuk kebutuhan konstruksi skala besar, seperti jalan tol,” tambahnya.
Terkait perizinan, Regi menyatakan bahwa pihaknya hanya berperan sebagai pemanfaat, bukan pengelola atau penghasil limbah abu batu bara. “Kami sudah mengantongi NIB, SPPL, dan izin lingkungan. Ada juga MoU antar UKM pemanfaat FABA khususnya Bottom Ash, SK pengesahan pengurus dari Kepala Desa Cijantung, serta Berita Acara Hasil Pembinaan dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Purwakarta,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua UKM Lancar Jaya, Pudin Saripudin, mengungkapkan bahwa pemanfaatan FABA menjadi solusi krusial bagi anggotanya. Pasalnya, banyak tambang di Purwakarta yang ditutup oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat, sehingga bahan baku tradisional untuk pembuatan batako dan produk sejenis menjadi sulit didapat.
“Agar usaha anggota tetap berjalan, kami akhirnya memanfaatkan limbah FABA, khususnya Bottom Ash, sebagai bahan utama. Alhamdulillah, selama satu tahun penerapannya berjalan lancar dan berdampak positif. Usaha bisa berjalan kembali, sehingga membantu memenuhi kebutuhan ekonomi anggota,” kata Pudin.
Pudin juga menegaskan bahwa pemanfaatan Bottom Ash tidak menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan maupun kesehatan. “Lebih dari 20 anggota kami yang mengolah limbah ini kondisinya sehat-sehat saja. Jadi, limbah abu batu bara ini tidak berbahaya, malah sangat bermanfaat dan membuka lapangan pekerjaan,” tuturnya.
Pendapat senada disampaikan oleh salah satu anggota UKM, Ujang Rosidin. Menurutnya, tanpa adanya limbah FABA, kehidupan sehari-hari anggota UKM akan sangat terganggu. “Kita bisa saja menganggur, padahal mencari pekerjaan di zaman sekarang sangat sulit, apalagi bagi kami masyarakat kecil,” tegas Ujang.
Publisher : Nana Cakrana + Edi Tanam


Komentar0