Oleh : Rosadi Jamani Ketua Satupena Kalbar
Pontuanak —Monitorkrimsus.ccom
Kita update perang Iran vs Israel-AS, 11 Maret 2026. Kali ini Paman Sam seperti kena getahnya. Sebanyak 150 tentara AS terkapar. Lebih tragis, kota Tel Aviv hancur lebur. Mitos negara super power mulai retak. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Pentagon akhirnya mengakui, sekitar 150 tentara Amerika Serikat terluka sejak konflik dimulai. Sebagian besar luka memang dikategorikan ringan, tetapi delapan di antaranya dilaporkan mengalami cedera serius. Sekitar 108 personel telah kembali bertugas. Sebuah detail yang terdengar seperti kalimat dingin dalam laporan militer. Luka boleh ada, tetapi mesin perang tetap berjalan.
Serangan balasan Iran berupa roket dan drone menghantam berbagai pangkalan militer Amerika di Timur Tengah. Selain korban luka, sedikitnya tujuh tentara AS dilaporkan tewas di Kuwait dan Arab Saudi akibat serangan tersebut.
Konflik ini bermula ketika Amerika dan Israel meluncurkan serangan besar terhadap fasilitas nuklir serta infrastruktur militer Iran dalam operasi yang dikenal sebagai Operation Epic Fury. Targetnya tidak hanya instalasi militer, tetapi juga kepemimpinan Iran. Dalam gelombang awal serangan itu, pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei dilaporkan syahid.
Namun seperti hukum besi dalam filsafat perang Timur Tengah, setiap pukulan biasanya dibalas dengan pukulan yang sama kerasnya. Iran merespons dengan strategi serangan luas ke berbagai target Amerika dan Israel di kawasan. Menurut berbagai laporan, Iran telah menyerang puluhan pangkalan militer AS di Timur Tengah serta target di Israel menggunakan rudal dan drone.
Dampaknya mulai terasa bukan hanya di pangkalan militer, tetapi juga di kota-kota besar.
Di Israel, sirene serangan udara kini menjadi suara yang hampir rutin terdengar. Kota Tel Aviv, yang biasanya dikenal sebagai pusat teknologi dan ekonomi Israel, berubah menjadi panggung kekacauan.
Walikota Tel Aviv, Ron Huldai, dalam konferensi pers darurat pada 11 Maret 2026 menggambarkan situasi kota itu dengan kalimat yang membuat banyak orang terdiam. Ia menyebut kerusakan yang terjadi sebagai yang terparah sejak berdirinya Israel.
Rudal dan drone yang berhasil menembus pertahanan udara menghantam distrik bisnis utama di sepanjang Jalan Ayalon, jantung ekonomi kota. Gedung-gedung tinggi yang biasanya berkilau oleh lampu perusahaan teknologi kini dipenuhi reruntuhan beton, kaca pecah, dan asap kebakaran.
Lebih dari itu, Tel Aviv menghadapi krisis infrastruktur. Huldai mengungkapkan, sekitar 40 persen wilayah kota mengalami pemadaman listrik. Sementara pasokan air bersih di beberapa kawasan selatan terganggu. Sirene peringatan serangan udara masih berbunyi setiap beberapa jam, membuat upaya pemulihan berjalan lambat.
Pemerintah kota akhirnya mengambil langkah drastis. Evakuasi massal. Sekitar 200.000 warga diperintahkan meninggalkan kawasan utara, termasuk distrik Ramat Aviv, menuju wilayah yang dianggap lebih aman.
Di beberapa titik kota, pemandangan kehancuran terasa seperti adegan film apokaliptik. Sebuah gedung apartemen 20 lantai di Hayarkon Street dilaporkan ambruk akibat serangan langsung. Di kawasan bisnis Sarona Market, kebakaran besar masih menyala karena tim pemadam kesulitan menjangkau lokasi.
Sementara itu, data otoritas Israel menunjukkan lebih dari 9.100 klaim kerusakan akibat serangan rudal yang menghantam berbagai wilayah negara tersebut selama perang berlangsung.
Namun tragedi terbesar terjadi jauh di seberang front. Di Iran sendiri, laporan menyebut lebih dari 1.200 warga sipil tewas dan sekitar 12.000 orang terluka akibat bombardir yang menghantam berbagai kota.
Di Washington, Presiden Donald Trump mengatakan, perang ini mungkin akan berakhir segera, meskipun konflik sudah memasuki hari ke-11 tanpa tanda mereda. Sementara itu para analis memperingatkan, perang ini berpotensi memicu krisis energi global, terutama karena ketegangan di Strait of Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia.
Sejarah perang sering menunjukkan ironi yang sama. Setiap pihak mengklaim sedang menang, sementara kota-kota di bawah langit yang sama justru belajar arti kehancuran.
Di tengah dentuman rudal dan propaganda dari semua arah, satu hal menjadi jelas. Perang ini bukan sekadar pertarungan militer. Ia telah berubah menjadi ujian kesabaran, kekuatan, dan harga yang harus dibayar manusia ketika geopolitik berubah menjadi api.
Sumber foto: Republika
Publisher : Krista#camanewak

Komentar0