TSriBSA8GfrlBSClGpMiGpYoGi==

Sekda Dilepas, Gubernur Jateng Bantah Ngaku Bersama Fadia Arafiq

Oleh : Rosadi Jamani Ketua Satupena Kalbar

Pontunak — Monitorkrimdus..com

Saya sempat “menelanjangi” secara naratif Sekda Pekalongan, Mohammad Yulian Akbar, ketika namanya terseret dalam OTT oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Berita awalnya tegas, ikut diamankan bersama bupatinya. Publik pun langsung menyimpulkan, paket komplit.

Eh, beberapa jam kemudian, plotnya berbelok tajam. Sekda dilepas. Keluar tanpa rompi oranye. Santai. Seolah hanya salah jadwal rapat.

Sementara itu, Fadia Arafiq tampil dengan rompi khas yang warnanya lebih terang dari lampu hazard truk lintas Kalimantan. Kontrasnya terlalu dramatis untuk sekadar disebut kebetulan visual.

Belum selesai kita mencerna adegan pertama, muncul babak kedua. Sang bupati mengaku saat momen penangkapan itu ia sedang bersama Gubernur Jawa Tengah. Nama Ahmad Luthfi pun ikut terseret ke dalam pusaran narasi.

Tak butuh waktu lama, bantahan datang. Tegas. Ringkas. Tidak bersama. Tidak tahu.

Nah, di titik inilah logika rakyat mulai menyalakan lampu jauh.

Bukan soal siapa benar siapa salah. Tapi publik kita sudah kenyang pengalaman. Setiap kali badai hukum datang, selalu ada pola kalimat yang terdengar terlalu presisi. Terlalu bersih. Terlalu siap tayang.

“Tidak tahu.”

“Tidak di lokasi.”

“Hanya diminta hadir.”

“Hormati proses hukum.”

Empat mantra sakti yang seperti tercetak otomatis setiap krisis muncul.

Apakah itu berarti semua pejabat pasti berbohong? Tidak juga. Tapi sejarah panjang politik kita membuat kepercayaan publik tidak lagi polos seperti anak baru masuk sekolah dasar. Sekarang rakyat itu seperti auditor batin, menghitung jeda napas, membaca gestur, menelusuri timeline.

Dalam dunia kekuasaan, narasi adalah senjata pertama. Siapa paling cepat bicara, dia menguasai framing. Siapa paling keras membantah, sering kali justru sedang menjaga jarak dari api yang belum tentu padam.

Yang menarik bukan hanya Sekda dilepas. Itu bisa saja murni soal alat bukti dan konstruksi perkara. Yang bikin dahi berkerut adalah tarik-menarik pernyataan. Klaim dan bantahan yang datang seperti adegan saling lempar bola panas.

Rakyat hari ini bukan lagi penonton pasif. Mereka detektif digital. Mereka cocokkan waktu. Mereka bandingkan versi. Mereka simpan screenshot. Karena pengalaman mengajarkan satu hal, dalam politik, kebenaran sering muncul belakangan, setelah narasi kelelahan.

Skeptis bukan berarti fitnah. Skeptis adalah refleks kolektif setelah terlalu sering disuguhi janji yang menguap seperti uap kopi pagi.

Maka dalam kisah ini, yang perlu dirawat bukan kecurigaan liar, tetapi daya kritis. Hormati proses hukum, iya. Tapi jangan parkir akal sehat di luar pagar kekuasaan

Karena jabatan tinggi tidak otomatis membuat pernyataan steril dari kepentingan. Rompi oranye bukan satu-satunya warna dalam spektrum kebenaran.

Rakyat sudah belajar mahal, percaya boleh,

percaya total itu risiko fiskal batin.

Simak saja narasinya sambil seruput Koptagul, wak. Jangan jadi kerewak dalam berpikir, jangan pula pemulak dalam menelan informasi. Kita tunggu babak berikutnya.


Foto AI hanya ilustrasi.

Publisher : Krista#camanewak

Komentar0

Type above and press Enter to search.