TSriBSA8GfrlBSClGpMiGpYoGi==

Menguak Uga Wangsit Siliwangi Bersama MAUNG & RAJAWALI: Antara Lauh Mahfuzh dan Bahasa Senja Leluhur

                     Ket Foto : Ilustrasi (Ist)

JAKARTA – Monitorkrimsus. com

Ketua Umum sekaligus Pendiri Lembaga Monitor Aparatur Untuk Negara dan Golongan (MAUNG) serta Rangkulan Jajaran Wartawan dan Lembaga Indonesia (RAJAWALI), Hadysa Prana, menyampaikan kajian mendalam mengenai pemahaman yang sering keliru terhadap warisan budaya leluhur, Uga Wangsit Siliwangi. Menurutnya, selama ini banyak kalangan yang menyebut wangsit tersebut sebagai sekadar ramalan masa depan, padahal makna aslinya jauh lebih dalam dan kompleks.

"Selama ini, sebagian kalangan mungkin menyebut 'Uga Wangsit Siliwangi' adalah bentuk ramalan. Namun dalam kenyataannya, beberapa poin yang tertuang di dalamnya merupakan pernyataan simbolis dari suatu 'penglihatan' atau pemahaman mendalam yang diekspresikan lewat metafora. Tujuannya agar kandungan makna sebenarnya tidak mudah dipahami sembarangan orang. Oleh karenanya, wangsit ini tepat disebut sebagai bentuk ekspresi esoterik," ujar Hady dalam paparannya, Sabtu (18/7/2026).

Ia menjelaskan, konsep dasar di balik wangsit semacam ini berkaitan erat dengan apa yang dikenal sejak masa kuno sebagai Lauh Mahfuzh, atau yang di dunia barat sering disebut sebagai Akashic Records. Secara hakikat, Lauh Mahfuzh adalah medium penyimpanan segala peristiwa, pengetahuan, dan kenyataan yang pernah, sedang, maupun akan terjadi di seluruh alam semesta.

"Meskipun sudah dikenal sejak zaman dahulu, hanya orang-orang khusus yang diberi anugerah Tuhanlah yang mampu mengakses data di 'server alam semesta' ini secara signifikan. Padahal, setiap manusia yang hidup sebenarnya bisa terhubung satu sama lain lewat jaringan Lauh Mahfuzh ini. Analoginya persis sama dengan jaringan internet yang kita gunakan saat ini, yang menghubungkan seluruh perangkat di dunia," jelasnya.

Namun lanjut Hady, pemahaman tentang adanya jaringan penghubung universal ini sangat jarang diketahui masyarakat luas sejak masa lampau. Para penjaga pengetahuan suci yang memiliki kemampuan mengaksesnya pun menyimpan dan mengembangkan kemampuan tersebut di lingkungan yang sangat terbatas. Ketika hasil pengamatan atau wahyu dari Lauh Mahfuzh hendak disampaikan ke publik, isinya disusun ulang menggunakan bahasa simbolis dan metafora yang sulit dimengerti orang awam.

"Gaya bahasa metafora yang dipakai leluhur untuk menyampaikan wahyu, visi ilahiah, serta peristiwa dan tokoh yang dianggap sakral, sejalan dengan konsep yang pernah saya bahas sebelumnya sebagai Bahasa Senja atau Twilight Language," tambahnya.

Sayangnya, perjalanan sejarah kemudian mencatat masalah besar muncul ketika orang-orang yang bukan bagian dari komunitas penjaga rahasia suci mulai berusaha menguak pengetahuan tersebut dengan cara sendiri, semata-mata demi keuntungan pribadi.


"Mereka memanipulasi ilmu perbintangan dan tanda-tanda alam lain untuk membuat ramalan atau prediksi yang seolah-olah benar, padahal sejatinya menyesatkan. Bahkan ada sebagian kalangan yang memanfaatkan—atau justru sedang dimanfaatkan—kekuatan dari dimensi kegelapan, golongan makhluk gaib yang memang berniat mengambil keuntungan dari ketidaktahuan manusia," tegas pendiri MAUNG dan RAJAWALI ini.

Hady berharap kajian ini dapat membuka wawasan masyarakat agar tidak mudah tertipu penafsiran yang keliru, serta mampu menghargai kebijaksanaan leluhur sebagai warisan pemikiran tinggi, bukan sekadar mitos atau takhayul belaka.

Sebagai penutup kajian ini, Hady mengajak seluruh elemen bangsa untuk kembali bijak dalam memaknai warisan leluhur, menjauhi penafsiran yang menyesatkan, serta menjadikan kearifan lokal sebagai landasan memperkokoh persatuan dan kewibawaan Indonesia.

Publisher : TIM/RED
Penulis : TIM MAUNG & RAJAWALI
Ket Foto : Ilustrasi (Ist)

🔱 🇲🇨 ☀️

Komentar0

Type above and press Enter to search.