TSriBSA8GfrlBSClGpMiGpYoGi==

Doa Bersama Untuk Pak Latif: Semoga Selalu Menjadi Berkah Bagi Purwakarta

                        Ket Foto :  Istimewa


PURWAKARTA —Monitorkrimsus.. com

Sore ini suasana rumah Pak Latif terasa berbeda dari biasanya. Jika hari-hari biasa rumah ini cenderung sepi karena beliau baru pulang larut malam setelah menyelesaikan tugasnya, hari ini terasa hangat dan penuh keakraban.

Di halaman depan telah didirikan tenda sederhana, kursi plastik ditata melingkar, dan di tengahnya berdiri meja panjang yang dihias dengan kue bolu coklat bertuliskan angka besar “36”. Tanpa panggung megah atau undangan yang berlebihan, perayaan ulang tahun ke-36 ini justru dihadiri oleh orang-orang terdekat dan rekan-rekan yang selama ini berjalan bersama beliau.

Hadir Pak Haji Rustandi beserta istri, pemilik RS ASRI Purwakarta, yang datang membawa nasi tumpeng. “Ini tanda syukur dan selamatan untuk Bapak Latif. Semoga sisa umur Bapak senantiasa diberkahi, sehat selalu, dan menjadi manfaat bagi banyak orang,” ujar Pak Haji Rustandi sambil menjabat tangan Pak Latif dengan erat.

Tak lama kemudian, hadir pula Pak Haji Dedi Mulyadi Dipraja yang tampak tenang mengenakan sarung dan peci. Beliau langsung duduk di tempat yang telah disiapkan, memimpin doa dengan penuh kekhusyukan:

“Ya Allah, di usia yang ke-36 ini, panjangkanlah umur Pak Latif, sehatkanlah raganya, luruskanlah niatnya, dan lancarkanlah segala urusannya. Jadikanlah setiap langkah dan keringatnya sebagai amal yang membawa berkah bagi tanah Purwakarta dan seluruh rakyatnya.”

“Aamiin… Aamiin Ya Rabbal Alamin!” jawab seluruh yang hadir dengan suara bulat.



Di sudut lain, Pak Tomi tampak sibuk mengarahkan kamera, mengabadikan setiap momen pertemuan ini. “Ini buat kenang-kenangan Pak, nanti sepuluh tahun lagi kita buka kembali saat ulang tahun ke-46, biar kita ingat betapa indahnya persaudaraan ini,” ujarnya sambil tersenyum. Sabtu (15/08/26).

Yang paling mencuri perhatian dan membuat semua tertawa kecil adalah kedatangan Ruchyana, yang dikenal dengan sapaan “si ganteng kalem”. Beliau datang diam-diam membawa kado yang dibungkus rapi. Ketika diminta menyampaikan ucapan, ia hanya tersenyum tulus dan berkata singkat:

“Pak Latif itu contoh nyata buat kita semua. Kerja ikhlas, hati tenang, umur pun jadi berkah. Cuma itu saja yang ingin saya sampaikan. Panjang umur Pak.”

Saat tiba waktunya meniup lilin angka 36, tepuk tangan riuh menggema di halaman rumah. Anak-anak kecil yang hadir bersorak riang: “Selamat ulang tahun, Pak Latif!”

Pak Latif pun berdiri, matanya terlihat berkaca-kaca menahan haru.

“Terima kasih banyak semuanya. Jujur saya tak menyangka akan dikunjungi sebanyak ini. Saya hanyalah orang biasa yang tak punya apa-apa selain niat tulus: bekerja dengan ikhlas, menjaga hati agar tetap tenang dalam setiap ujian. Jika umur ini bisa menjadi berkah, itu semata-mata karunia Allah. Dan hadiah terindah yang saya terima hari ini bukanlah barang, melainkan kehadiran kalian semua di sini,” ungkapnya dengan suara bergetar haru.

Acara sore itu ditutup dengan kebersamaan sambil menikmati hidangan sederhana: sate, gorengan hangat, dan teh manis. Tak ada pidato berpanjang lebar, tak ada kemegahan yang dipamerkan. Yang tersisa hanyalah tawa, doa tulus, dan rasa persaudaraan yang kian erat.

Di usia ke-36, Pak Latif menerima anugerah terindah yang tak ternilai harganya: dikelilingi orang-orang yang tulus menyayangi dan mendoakannya. Selamat ulang tahun Pak Latif, semoga usia ini menjadi gerbang bagi keberkahan-keberkahan yang lebih luas lagi.

Publisher : Edi Tanam (Beloy)

 

Komentar0

Type above and press Enter to search.