TSriBSA8GfrlBSClGpMiGpYoGi==

Ketum MAUNG & RAJAWALI Hadysa Prana Kupas Wangsit Siliwangi: Tanda Zaman Bergeser, "Siapa Sadar Ia Selamat"

                        Ket Foto : Ilustrasi (Ist)
 

JAKARTA — Monitorkrimsus.com

Di tengah guncangan perubahan besar dan pergeseran tatanan kehidupan baru yang dikenal sebagai The New Grid, Hadysa Prana, Ketua Umum sekaligus Pendiri LSM Monitor Aparatur Untuk Negara dan Golongan (MAUNG) serta Rangkulan Jajaran Wartawan dan Lembaga Indonesia (RAJAWALI), mengangkat kembali dan mengupas makna mendalam dari naskah kuno Uga Wangsit Siliwangi. Pesan luhur ini dianggap sangat relevan dan menjadi cerminan nyata nasib manusia masa kini, terutama bagi mereka yang belum mau maupun belum mampu membuka kesadaran diri.

Dalam uraiannya, Hadysa Prana mengutip kalimat petuah agung Siliwangi:

"Loba nu hulu-gundung, loba nu manggul karung... loba nu katumpuan ku hulu, loba nu katajongan ku suku"
(Banyak yang bingung tanpa arah, banyak yang memikul beban berat... banyak yang tertindih pikiran sendiri, banyak yang terinjak dan terjebak oleh ego mereka sendiri)

Menurutnya, kalimat ini telah memetakan dengan sangat jelas dan lugas apa yang sedang dialami oleh mereka yang masih tertutup mata batinnya. Secara rasional, psikologis, maupun spiritual-energetik, manusia yang belum tersadar kini sedang dilanda krisis mental yang dalam dan kehilangan arah hidup.

"Kita sedang menyaksikan bagaimana frekuensi getaran bumi semakin meninggi, sejalan dengan bergeraknya energi poros Ka-Ra-Ka-Twa. Manusia yang enggan menyelaraskan diri dengan kebenaran alam semesta, akan merasakan benturan hebat dalam dirinya sendiri. Batinnya bergejolak, jiwanya terguncang, dan ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi," urai Hady. Sabtu (12/09/26).

Ia menjelaskan bahwa gejalanya sangat nyata: kecemasan datang tanpa sebab jelas, kepanikan melanda, stres menjadi penyakit sehari-hari, hingga hati terasa kosong dan hampa. Segala hal yang selama ini dianggap berharga dan dijadikan pegangan — harta kekayaan, kedudukan, kekuasaan, serta hasil eksploitasi alam dan sesama manusia — tiba-tiba terasa tidak lagi bermakna. Sistem nilai yang dulu dianggap nyaman dan benar, kini mulai rapuh dan runtuh, sehingga banyak orang merasa kehilangan pijakan hidup.

Karena tidak mampu mendengar maupun merasakan "tiupan suling" — yaitu suara keheningan dan kebenaran sejati — mereka terombang-ambing terbawa arus. Terperosok dalam gelombang berita bohong, terbelah oleh pertikaian politik, dan mudah diadu domba.

"Mereka menghabiskan sisa tenaga dan umurnya hanya untuk saling menyalahkan, bertikai berebut sisa-sisa reruntuhan sistem lama yang sudah tidak berguna lagi. Tanpa sadar, mereka menjadi penonton sekaligus korban dari apa yang disebut sebagai 'panggung pembersihan' alam. Ini bukan hukuman, melainkan proses penyaringan dan pemurnian yang pasti berjalan," tegasnya.

Pada akhirnya, Hadysa Prana mengingatkan: mereka yang menolak berkembang dan meninggalkan sifat lama, akan tersaring secara alami oleh jalannya zaman. Terpilih atau tertinggal, itu semata-mata hasil dari kesadaran masing-masing.

"Mereka akan kelelahan lahir dan batin luar biasa, karena terus memaksakan gaya hidup serakah dan mementingkan diri sendiri di atas bumi yang sedang menuntut pemulihan dan kemurnian kembali. Di masa depan, mereka hanya akan menjadi seperti fosil peninggalan peradaban yang sudah berlalu," tambahnya.  


TIGA TABIR YANG MENGUNCI KESADARAN MANUSIA

Lebih jauh, Hadysa Prana membedah akar masalah mengapa banyak orang belum mau maupun belum mampu tersadar dari keadaan ini. Ada tiga tabir besar yang menutup pandangan batin mereka, sehingga kebijaksanaan dan pengetahuan purba yang tersimpan di dalam diri tetap tertidur lelap:

Pertama: Terbelenggu Jagat Pikiran dan Logika Transaksional.
Banyak orang mendewakan akal pikiran semata dan mengukur segala sesuatu hanya dengan hitungan untung-rugi materi. Bagi mereka, tanda-tanda alam seperti letusan gunung, perubahan iklim, maupun pergeseran zaman hanyalah kejadian fisik biasa. Mereka menganggap segala hal yang tidak bisa dihitung dengan angka uang sebagai hal mistis atau sekadar cerita dongeng. Akibatnya, kepekaan batin mereka mati rasa, tertimbun tumpukan logika keserakahan dan keuntungan sesaat.

Kedua: Terhanyut Polusi Informasi dan Kebisingan.
Kebisingan dunia modern kini bertindak selaku pengacak sinyal. Manusia menghabiskan waktu berjam-jam tenggelam dalam layar gawai, terjebak algoritma media sosial, dan terbiasa dengan gaya hidup serba instan. Polusi gelombang informasi dan elektromagnetik ini menutup akses masuknya getaran halus dari tatanan baru The New Grid maupun kebenaran alam semesta. Gelombang otak manusia selalu berada dalam ketegangan tinggi, sehingga tidak mampu menangkap pesan lembut namun pasti dari alam.

Ketiga: Terikat Kenyamanan dan Ketakutan Kehilangan.
Banyak orang sengaja menutup mata dan telinga karena merasa nyaman dengan apa yang dimiliki saat ini — jabatan, kekayaan, kedudukan, dan kekuasaan. Di dalam hati mereka tersimpan ketakutan besar: "Jika saya melepaskan semua ini, maka saya bukan siapa-siapa lagi." Ketakutan inilah yang membuat mereka memilih mempertahankan keadaan lama, meskipun sudah jelas tidak lagi berkelanjutan.
 
TUGAS JALMA HEDAP: MENJAGA DIRI, MEMBIARKAN ALAM BERJALAN

Hadysa Prana menegaskan bahwa pergeseran zaman ini bersifat mutlak dan tidak dapat dihindari. "Alam tidak meminta persetujuan manusia untuk berubah. Hukum alam berjalan sendiri, tepat dan pasti," ujarnya.

Maka, tugas mereka yang telah tersadar — yang disebut Jalma Hedap — bukanlah memaksa orang lain untuk ikut sadar atau berteriak menyalahkan keadaan. Tugas utamanya hanyalah satu: fokus menjaga kestabilan energi diri sendiri, menjaga ketenangan hati, dan memancarkan kedamaian.

"Biarkan proses pembersihan alam berjalan sesuai porsinya. Ketika badai perubahan ini mencapai puncaknya, maka kelompok manusia yang masih bingung, takut, dan terguncang itu, dengan sendirinya akan mencari perlindungan. Dan ke mana mereka akan berlindung? Kepada manusia-manusia hening, manusia yang tenang, manusia yang memancarkan energi ketenangan dan kedamaian — para Manusa Sunda di Sarambat — manusia sejati yang menjadi cahaya penuntun di tengah gelapnya masa transisi ini," pungkas orang nomor satu di DPP MAUNG & RAJAWALI.

Pesan ini disampaikan sebagai pengingat bagi seluruh elemen masyarakat, khususnya jajaran pengurus dan anggota MAUNG serta RAJAWALI, untuk senantiasa meningkatkan kesadaran diri, memperteguh kebenaran, dan menjadi pelita bagi lingkungan sekitar di tengah arus zaman yang terus berubah.

Publisher : TIM/RED
Penulis : TIM MAUNG + RAJAWALI
Ket Foto : Ilustrasi (Ist)
 

Komentar0

Type above and press Enter to search.