PONTIANAK, KALBAR —Monitorkrimsus.com
Kebakaran hutan dan lahan yang melanda Kalimantan Barat hingga seluruh penjuru Kalimantan kini bukan lagi sekadar ancaman lingkungan, melainkan bencana besar yang menyengsarakan rakyat. Kabut asap pekat menutupi langit, udara tak lagi sehat untuk dihirup, mata air mengering, dan ribuan warga mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Musim kemarau yang berkepanjangan membuat tanah retak, sungai menyusut, dan harapan masyarakat perlahan menipis. Di saat rakyat membutuhkan pertolongan dan jawaban atas krisis yang berlarut-larut ini, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LSM MAUNG menyuarakan harapan besar agar pihak berwenang membuka ruang dan menghadirkan sosok yang dikenal luas dengan kemampuannya memohon turunnya hujan: Raden Roro Istiati Wulandari, atau yang akrab disapa Rara.
Permintaan ini disampaikan secara khusus oleh Ketua Dewan Pembina DPP MAUNG, Syarif Achmad, yang menilai bahwa selain penanganan teknis dan penegakan hukum, bangsa ini juga tidak boleh melupakan kearifan lokal, doa, dan cara-cara yang sudah terbukti membawa hasil serta ketenangan bagi masyarakat.
"Banyak sudah yang berjuang, memadamkan api, membagikan masker, mengirimkan bantuan air. Namun bencana ini terus berulang, semakin meluas, dan kini disertai kekeringan yang parah. Langit terasa kering, tanah merindukan air. Di momen sulit ini, kami dari DPP MAUNG meminta kepada pemerintah dan seluruh pihak berwenang untuk membuka hati dan menghadirkan Ibu Rara — sosok pawang hujan yang namanya pernah menggema dan meyakinkan banyak orang saat diundang ke Sirkuit Mandalika," ujar Syarif Achmad. Kamis (03/08/26).
*Kisah Perjalanan Panjang Rara: Dari Tanah Papua Hingga Menggetarkan Mandalika*
Syarif Achmad kemudian menguraikan sosok Rara dengan rasa hormat dan kekaguman, menelusuri jejak hidupnya yang penuh makna.
"Raden Roro Istiati Wulandari, yang akrab dipanggil Rara, lahir di tanah Papua pada tanggal 22 Oktober 1983. Ia tumbuh besar membawa warisan budaya dan kearifan leluhur yang kaya. Sejak muda, ia telah belajar, merenung, dan mendalami hubungan manusia dengan alam — bahwa air, hujan, awan, dan angin adalah berkah yang harus dimohon dengan ketulusan, kesucian hati, dan penghormatan kepada Sang Pencipta serta lingkungan sekitarnya." Ungkapnya
"Namanya dikenal luas dan menjadi perbincangan hangat di seluruh Indonesia, tepatnya sesaat sebelum gelaran balapan besar MotoGP Pertamina Grand Prix of Indonesia di Sirkuit Mandalika. Saat itu, cuaca sangat panas, langit tampak tertutup debu, dan kekhawatiran melanda banyak pihak. Namun setelah Rara hadir, melakukan tata cara dan permohonan sesuai pengetahuannya, langit perlahan berubah, awan berkumpul, dan turunlah hujan yang justru menjadi berkah dan mengatur suhu lingkungan demi kelancaran acara. Banyak orang menyaksikan, banyak yang merasa takjub — bukan karena keajaiban semata, melainkan karena kesungguhan hati dan pemahaman mendalam tentang cara berkomunikasi dengan alam yang diwariskan nenek moyang kita," papar Syarif.
Selain itu, rara bukan sekadar orang biasa. Ia adalah pelestari budaya, penjunjung kearifan lokal, dan bukti bahwa di tengah kemajuan zaman. "warisan leluhur masih punya tempat dan makna besar bagi kita semua. Kemampuannya bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk dimanfaatkan demi kebaikan dan keselamatan bersama." Tuturnya
Hadirkan Rara: Mohon Berkah Hujan, Pulihkan Keseimbangan Alam Kalimantan
Menurut Syarif Achmad, kondisi Kalimantan saat ini jauh lebih membutuhkan kehadiran Rara dibandingkan saat di Mandalika.
"Di Mandalika, hujan dimohon demi kelancaran olahraga. Di Kalimantan, kita memohon hujan demi nyawa manusia, demi keselamatan hutan, demi air minum jutaan warga yang kini menderita asap dan kekeringan. Kebutuhan kita saat ini jauh lebih besar, jauh lebih mendesak, dan jauh lebih menyangkut hajat hidup orang banyak."
"Kami tidak mengatakan ini satu-satunya jalan. Namun kami percaya, segala upaya yang baik, yang berlandaskan doa, kearifan, dan niat tulus menyelamatkan alam, patut dicoba dan didukung. Jangan pandang remeh warisan budaya sendiri. Justru di saat ilmu pengetahuan saja belum cukup menjawab segala persoalan, kita kembali mendekat kepada cara-cara luhur nenek moyang kita," tegasnya.
Syarif juga mengingatkan bahwa bencana karhutla dan kekeringan ini terjadi bukan tanpa sebab. Di balik kekeringan ada kerusakan lingkungan, ada pembakaran liar, ada kelalaian dan ketidakpedulian manusia. Maka permohonan hujan juga harus beriringan dengan tekad kuat memperbaiki kesalahan dan menjaga alam kembali.
"Hadirkan Rara, mohonkan turunnya hujan agar api padam, tanah lembap, mata air kembali mengalir. Tapi setelah itu, mari kita berjanji: tidak lagi membakar hutan, tidak lagi merusak lingkungan, dan menjaga apa yang dikembalikan alam kepada kita. Kalimantan butuh kesadaran, butuh tindakan, dan butuh doa yang nyata." Tegasnya
DPP MAUNG berharap pemerintah mendengar seruan ini, membuka ruang seluas-luasnya, dan mengundang Ibu Rara untuk hadir di tengah rakyat Kalimantan. "Semoga langkah ini menjadi pertanda baik, awal pemulihan, dan bukti bahwa kita bangsa yang menghargai warisan leluhur serta tetap dekat dengan Sang Pencipta," pungkas Syarif Achmad.
Bencana karhutla dan kekeringan di Kalimantan adalah ujian besar bagi kita semua. Di tengah segala upaya penanganan, seruan DPP MAUNG untuk menghadirkan Pawang Hujan Rara menjadi pengingat bahwa alam tidak hanya dijaga dengan peralatan canggih, tetapi juga dengan kesadaran, penghormatan, dan ketulusan hati. Semoga doa dan harapan
Publisher : TIM/RED
Penulis : TIM MAUNG
Ket Foto : Ilustrasi (Ist)


Komentar0